Kemenristekdikti Minta Untirta Kembangkan Teknologi Pangan Lokal

 

Irjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Gufron Mukti, Gubernur Banten, Wahidin Halim, Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, Mantan Rektor, Soleh Hidayat dan pejabat lainnya menghadiri Soft Launching Kampus baru Untirta, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Rabu (2/10/2019). Foto Ronald/Selatsunda.com

SERANG,Selatsunda.com – Pembangunan Kampus baru Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang baru saja di Soft Launching, Rabu (2/10/2019). Hadir dalam kegiatan, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Gufron Mukti, Gubernur Banten, Wahidin Halim, Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, Mantan Rektor, Soleh Hidayat dan pejabat lainnya.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan dlDikti Kemenristekdikti, Ali Gufron Mukti pada kesempatan tersebut menyampaikan agar kampus baru Untirta bisa menjadi salah satu kampus yang mengembangkan teknologi ketahanan pangan dengan memberdayakan sumber pertanian yang ada di Banten. Dari hasil pengembangan yang dilakukan, kata Gufhron, dapat dimanfaatkan untuk masyarakat Banten dan juga untuk ekspor. Selain itu, dia juga meminta Untirta bisa mengembangkan anestasi alami ikan.

“Kami berharap, Kemenristekdikti berharap agar Universitas SA Tirtayasa menjadi Center Effect chalange, untuk food security. Untuk keamanan pangan. Kita bisa jadikan produksi pangan tidak hanya keperluan di Banten tetapi juga ekspor,” ujarnya usai meninjau area kampus.

“Tidak hanya produk pertnaian, tapi teknologi pertaniannya.Termasuk tadi saya menyampaikan itu, bagaomana bikin anastesi untuk ikan, di ekspor ditempatnya, bangun segar,” sambung Gufhron.

Lebih jauh dijelaskannya, untuk menerapkan teknologi tersebut seperti ikan, Untirta bisa mengembangkan tehnologi pengawetan dan sterilisasi iradiasi gamma. Sistem sterilisasi yang dimaksud itu dengan cara alami. “Jadi produk pangan, pertanian itu kan mudah busuk, dengan iradiasi gamma, itu bisa awet dan aman. Ini yang banyak tidak diketahui,” terangnya.

Pihaknya berharap, teknologi pangan tersebut dapat dikembangkan Untirta. Menurutnya dengan fasilitas yang nantinya lengkap di kampus baru Untirta diharapkan dapat mampu menerapkannya.

“Maka kami ingin mahasiswa dan dosen, dan SDM-nya dengan fasilitas, kapasitasnya juga meningkkat. Sehingga bisa bekerjasama dengan Batam, LPMK, bahkan luar negeri pun kami sudah membentuk jaringan tersebut. Iradiasi gamma sudah lebih dari 10 tahun yang lalu, dan sudah mampu,” harapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas SA Tirtayasa, Fatah Sulaiman menyaakan, pesan yang disampaikan Kemenristekdikti sudah menjadi mandatori Untirta. Sejauh ini teknologi ketahanan pangan menyangkut inovasi pangan lokal sudah terbentuk tim dan mulai dijalankan.

“Kita menerima Loan, maka kita harus menyiapkan diri sebagai pusat unggulan untuk ketahanan pangan terutama inovasi pangan lokal. Kita sudah lakukan dan sudah punya tim dan melakukan riset itu. Misalnya talas beneng sama kualitasnya dengan produk karbohidrat lain. Termasuk varian singkong, bukan hanya langsung dimakan, tetapi untuk material kimia lain,” tandasnya.

Ia berharap dengan dukungan Kemenristekdikti, kampus baru Untirta juga dapat mengembangkan tehnologi pengawetan dan sterilisasi iradiasi gamma. Termasuk membuka akses untuk melakukan berbagai riset di kampus. “Sharing resources dengan Puspitek, Lipi dan dan sebagainya, itu kan ada di Banten. Dengan surat dari Kementerian kita bisa akses,” ujarnya. (Ronald/Red)